Sabtu, 23 November 2013

RMM

Sore ini....
Aku sedang belajar ikhlas, membiarkan hujan menghujamkan rindu sementara kau tak sedang bersamaku.
Sayang, ia tidak pernah datang sendiri ia mengembun pada kaca jendela membentuk bayang wajahmu menyusun rindu-rindu sederhana.
Maka ketahuilah, bahwa pada engkau yang bertamu dalam setiap hujan, aku selalu merindukan–bukan bumi nan aroma atau pun pelangi sesudahnya.

Mendung....
Kutantang ia sembari menunggu kedatanganmu sebab pelukmu perapian, penghangat di kala hujan..
Ia datang sendirian, sementara hujan datang keroyokan aku, babak belur dihajar kenangan..
Kepergianmu menyusun mendung di mataku, melahirkan hujan di kemudian waktu..
Menengadah aku, memandang abu-abu ingin kutarik kelambu yang menahan air mata kelabu dan seketika aku ingin jadi bumi, bagi setiap air mata serta tiap jatuhmu yang dipaksa gravitasi..

Badai........
Hingga kini Tuhan belum menjawab bagaimana waktu mengkerut ketika mendung dan melemparku menuju masa lalu ketika hujan ––tak tertahankan
Sebelumnya, kita pernah menari di bawah hujan kini aku menangis bersamanya...
Pulanglah. Rinduku menggigil kesepian sementara engkau hanya mengirim hujan..

Aroma Pasca Hujan...
Betapa aku mencintainya betapa aku merindukannya aroma yang menemani mantra kekeringan tereksekusi..
Sayang, hujan telah usai, telah hadir pula pelangi namun rindu untukmu tak jua pergi...

                                                                                 Rindu di- Malam Minggu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar